Senin, 03 Juni 2024

Entry 6 - Ibadah dan Pembentukan Karakter Muslim

 Tanggal Pertemuan: 26 Maret 2024

Ibadah secara bahasa berasal dari kata 'abd yang artinya abdi, hamba, budak, atau pelayan. Jadi ibadah berarti pengabdian, penghambaan, pembudakan, kekuatan, atau merendahkan diri. 

Sedangkan secara istilah ibadah adalah semua yang mencakup segala perbuatan yang disukai dan diridhai oleh Allah swt, baik berupa perkataan maupun perbuatan, baik terang- terangan maupun tersembunyi dalam rangka mengagungkan Allah swt dan mengharapkan pahala-Nya.

Macam-Macam Ibadah:

1. Badaniyah/Madaniyah Mahdhah

Ibadah yang murni berupa gerakan fisik, tanpa dicampuri dengan komponen lainnya dan tidak boleh untuk diwakilkan pada orang lain kecuali dalam satu permasalahan, yakni shalat sunnah thawaf, yang boleh diwakilkan pada orang lain, atas jalan mengikut (tab’an) pada ibadah haji, yang boleh diwakilkan.

2. Maliyah Mahdhah

Ibadah yang murni hanya menyangkut urusan harta, seperti sedekah dan zakat. Dalam ibadah jenis ini, para ulama menghukumi boleh mewakilkan pada orang lain dalam pelaksanaannya.

3. Ghairu Mahdhah

Ibadah ini terdapat kaitannya dengan harta, namun juga terkandung gerakan-gerakan fisik (badaniyah) di dalamnya, Pelaksanaannya membutuhkan biaya dan terdapat ketentuan khusus, boleh untuk diwakilkan, namun dengan syarat-syarat tertentu yang dijelaskan dalam literatur fiqih. Maka ibadah tidak seluas dan sebebas ibadah maliyah dalam hal bolehnya mewakilkan pada orang lain.

Karakteristik Ibadah: (Mustafa Ahmad al-Zarqa, seorang ahli ilmu fikih membagi setidaknya ada 3 karakteristik)

1. Bebas dari perantara

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah) bahwasanya Aku adalah dekat, Aku mengkabulkan permohonan orang yang berdo’a kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)-Ku dan hendaklah mnereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran”. (Q.S Al-Baqarah ayat 186)

2. Tidak terikat tempat khusus

“Seluruh tempat di bumi adalah tempat bersujud, bersih dan suci” (HR. Bukhari dan Muslim). “Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka kemana pun kamu menghadap di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui” (QS.al-Baqarah, 2:115).

3. Tidak memberatkan

Rasulullah salallahu alaihi wassalaam bersabda: “Kamu seharusnya melakukan pekerjaan yang kamu sendiri mampu melakukannya, sesungguhnya Allah tidak menyenangi perbuatan suatu perbuatan hingga kamu sendiri menyenanginya” (HR. Bukhari dan Muslim) “Allah tidak membebani seseorang kecuali sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapatkan pahala dari kebajikan yang diusahakannya, dan ia mendapatkan siksa dari kejahatan yang dikerjakannya” (QS. al-Baqarah, 2: 286)

Asas dan Prinsip Ibadah dalam Islam

Asas ibadah yaitu melakukan kontrak syariah diniatkan sebagai ibadah kepada Allah swt. karena tujuan utama manusia diciptakan adalah untuk ibadah. 

Ibadah yang asas : mempelajari, memahami, meyakini, rukun iman, serta mempelajari, memahami dan melaksanakan rukun islam.

Prinsip ibadah adalah panduan atau aturan yang mengatur tata cara dan sikap seseorang dalam melaksanakan ibadah.

1. Niat lillahi ta’ala

2. Ikhlas

3. Tidak menggunakan perantara (washilah)

4, Tidak berlebih-lebihan

5. Seimbang antara dunia akhirat

6. Dilakukan sesuai dengan tuntunan al-Qur’an dan sunnah


Ibadah yang di Haramkan

1. Ibada ditujukan kepada selain Allah

2. Ibadah Karena Riya'

3. Ibadah yang tidak ada tuntunan nya


Implementasi Rukun Iman dikehidupan Mua'malah Duniawiyah

Rukun Iman ada 6 yaitu : 

1. Iman Kepada Allah  

Iman kepada Allah merupakan tingkat iman pertama yang harus diyakini. Seorang yang beragama memiliki kepercayaan bahwa Tuhan itu ada. Dalam Islam, Tuhan adalah Allah yang Maha Esa. Tuhan yang telah menciptakan manusia dan alam semesta. Seorang muslim harus beriman kepada Sang Maha Pencipta. Beriman kepada Allah dilandasi oleh Al-Qur'an surah Al-Araf ayat 54.

2. Iman Kepada Malaikat 

Malaikat merupakan salah satu ciptaan Allah yang terbuat dari cahaya. Dalam HR Bukhari nomor 3207, jumlah malaikat sangat banyak, tetapi ada 10 malaikat yang harus diketahui dan diyakini.                

3. Iman Kepada Kitab Allah

Sebagai umat muslim diharuskan untuk mempercayai kitab Allah. Ada empat Kitab Allah yang harus diimani dan hanya satu yang boleh diamalkan. Kitab Allah yang harus diimani yaitu Taurat yang diturunkan kepada Nabi Musa, Zabur yang diturunkan kepada Nabi Daud, Injil yang diturunkan kepada Nabi Isa, dan Al-Quran yang diturunkan kepada Nabi Muhammad. Dari keempat kitab tersebut, hanya Al-Qur'an yang boleh diamalkan karena kitab terakhir yang diturunkan kepada nabi Muhammad merupakan penyempurna dari kitab-kitab terdahulu.

4. Iman Kepada Rasul 

Nabi dan Rasul merupakan orang-orang terdahulu yang diutus Allah untuk menyampaikan kabar gembira dan peringatan. Nabi belum tentu seorang rasul, tetapi rasul sudah pasti seorang nabi. 

Terdapat 25 Nabi dan Rasul yang wajib diimani, yaitu Adam, Idris, Nuh, Hud, Shaleh, Ibrahim, Luth, Ismail, Ishaq, Yaqub, Yusuf, Ayub, Syuaib, Musa, Harun, Zulkifli, Daud, Sulaiman, Ilyas, Ilyasa, Yunus, Zakaria, Yahya, Isa, Muhammad. Landasan beriman kepada nabi dan rasul terdapat dalam Al-Quran surah An-Nisa: 165

5. Iman Kepada Hari Akhir 

Segala sesuatu yang ada di dunia ini akan berakhir dan akan digantikan oleh kehidupan baru yang bernama akhirat. Hari kiamat terbagi menjadi dua yaitu kiamat sugra dan kiamat kubra. Kiamat sugra adalah kiamat kecil berupa bencana gempa bumi, tsunami, gunung meletus, maupun orang meninggal. Sedangkan kiamat kubra yaitu kiamat sesunggungnya dimana dunia ini akan dihancurkan.

6. Iman Kepada Qadha dan Qadhar

Qada dan Qadar merupakan takdir yang sudah ditetapkan oleh Allah. Qadar tidak bisa diubah tetapi qada bisa diubah dengan suatu usaha, tawakal, dan doa. Qada adalah suatu ketetapan Allah SWT sejak zaman azali, seperti jenis kelamin, kelahiran, kematian. Sedangkan qadar yaitu bentuk perwujudan atas ketetapan Allah SWT, seperti kekayaan, kesehatan, kepintaran.

Landasan Al-Quran tentang beriman kepada qada dan qadar terdapat dalam surah An-Nisa: 79.

Continue reading Entry 6 - Ibadah dan Pembentukan Karakter Muslim

Entry 5 - Konsep Pembinaan Keimanan

 Tanggal Pertemuan: 25 Maret 2024

A. Pengertian Keimanan

Pengertian keimanan diambil dari kata imanan merupakan bentuk masdar dari kata amana, yang memiliki arti percaya dan kepercayaaan. Percaya berarti menggambarkan sikap jiwa seseorang yang meyakini sesuatu yang dipercayai kebenarannya, sedang kepercayaan adalah obyek dari sikap mempercayai, atau sebagai sesuatu yang diyakininya. Secara istilah keimanan didefinisikan sebagai pernyatan keyakinan dengan lisan, dibenarkan dengan hatinya, dan dilaksanakan dengan anggota badannya. 

Keimanan menurut Shobir Tho’imah tidak cukup dengan sekedar keyakinan pada umumnya, melainkan harus menjadi keyakinan yang pasti dan hakiki, bulat dan kokoh, tidak ada lagi sedikitpun keraguan dan tidak lagi ada diskusi dan bertanya-tanya dalam keimanannya (Ainain, 1980: 177). Berdasar pengertian ini maka seseorang baru dapat dinyatakan memiliki keimanan manakala keimanan itu sudah menjadi akidah, secara bulat menerima dan menjalankan konsekwensi keimanan dan menolak semua yang dapat membatalkan keimanan.

B. Prinsip Keimanan

Keimanan merupakan perkara yang harus dipegang teguh bagi yang seorang baru mengawali berislam, yang mau memproses dalam kehidupannya sebagai muslim, dan harus dipegang juga sebagai akhir dari kehidupannya. Keimanan sebagai langkah awal yang pertama harus ditempuh, oleh karenanya setiap muslim diwajibkan membaca kalimah syahadat la ilaha illallah. Keimanan dijadikan yang pertama harus ditanamakan, sehingga Rasulallah saw berpesan kepada Muadz mau dakwah ke yaman: “Kamu akan mendatangi kaum ahli kitab. Oleh karena itu, hendaknya hal pertama yang kamu serukan kepada mereka adalah , bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah” (Fathul Bari, 3: 1496). 

Keimanan kepada Allah Swt menjadi pertama yang harus diyakini umat Islam. Keimanan juga harus diwujudkan dalam menjalankan aktivitas hidup, agar hidup terarah dengan benar dan terbebas dari kemaksiatan dan kemusyrikan. Demikian juga keimanan harus menjadi akhir hidup, dengan menutup kehidupan dengan kalimah la ilaha illallah.

Di antara syarat keimanan akan keesaan Allah Swt adalah sebagai berikut:

1. Memahami maknanya keimanan, yakni tidak ada yang hak diibadahi kecuali hanya Allah Swt. 

2. Memiliki keyakinan yang bulat bahwa tiada yang hak diibadahi kecuali Allah Swt. Karena keimanan harus menghilangkan keraguan, bukan sekedar prasangka, dan pembiasaan. 

3. Menerima keimanan dengan hati,lisan dan perbuatan. Orang beriman harus menghilangkan sikap menolak nilai-nilai yang terkandung dalam keimanan. 

4. Menjalankan syariaat-Nya, keimanan yang sempurna akan menumbuhkan sikap hidup senantiaya menjalankan ibadah dan amal-amalnya berdasar syariat Allah Swt., dan tidak akan mau mengamalkan apapun yang tidak sesuai/tidak ada rujukaknya pada dalil yang dibenarkan Islam. 

5. Memiliki sikap shidiq/jujur senantiasa sesuai antara apa yang ada di hati dengan yang diucapkan, dan menghindari perilaku kemunafikan.

 6. Memiliki sikap hidup ikhlas, yakni melakukan segala sesuatu atas dasar perintah Allah Swt. dan hanya berharap balasan dari keridaan-Nya. Menghindari segala jenis kemusyrikan baik yang besar maupun kemusyrikan yang kecil.

7. Mencintai keimanan, mencintai orang yang beriman. Kecintaan ini yang akan bisa jadi dasar terciptanya ukhuwah keimanan yang dapat memperkokoh persatuan ummat.


C. Ruang Lingkup Keimanan

Ruang lingkup keimanan mencakup rukun iman, yakni beriman kepada Allah Swt, beriman kepada Malaikat, beriman kepada Rasul, beriman kitab, beriman pada hari akhir dan beriman kepada qada dan qadar.

1. Beriman kepada Allah yakni dalam arti membenarkan eksistensi Allah Swt., bahwa Dia adalah pencipta langit dan bumi, memahami alam ghaib dan alam nyata, bahwa Allah Swt Tuhan segala sesuatu sekaligus pemiliknya, bahwa tidak ada yang hak di ibadahi selain Allah Swt., bahwa Allah Swt. Maha Agung dan bersih dari semua kekurangan (Aljaziri, 2006: 1).

2. Kedua, keimanan kepada Malaikat yakni meyakini bahwa mereka adalah makhluk yang sangat mulia, yang senantiasa patuh dengan tugas-tugas yang diberikan oleh Tuhannya. Di antara malaikat ada yang diberi tugas menjaga manusia, mencatat amal manusia, menjaga surga dan neraka, bertugas bertasbih di malam dan di siang hari. Meyakini juga bahwa Allah Swt. melebihkan sebagian malaikat atas sebagian yang lain, ada malaikat yang dekat dengan-Nya seperti Malaikat Jibril, Mikail dan Israfil (Aljaziri, 2006: 19 ).

3. Ketiga, beriman kepada Kitab Allah Swt yakni beriman kepada semua kitab yang pernah diturunkan Allah Swt., dan semua shuhuf yang diberikan kepa sebagaian Rasulnya saw. bahwa semua itu adalah firman-Nya yang diwahyukan sebagai syariat bagi ummatnya. Kitab terbesar dan sebagai kitab terakhir penyempurna/ paling sempurna adalah Alquran yang diturunkan kepada Rasul terakhir Muhammad saw. Alquran merupakan kitab teragung, pengendali kitab sebelumnya, penghapus syariat dan hukum-hukum kitab-kitab sebelumnya berdasarkan dalil-dalil yang qath’i.

(Konsekwensi keimanan kepada kitab sebelum Alquran dengan demikian sebatas meyakini bahwa kitab itu semua merupakan wahyu Allah juga, namun kitab itu sudah diganti dengan Alquran sebagai wahyu Allah Swt. yang diperuntukkan untuk ummat Muhammad sampai akhir zaman. Pedoman dan aturan hidup umat sekarang adalah Alquran, yang harus dibaca, dipahami, dan diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari seorang muslim.)

4. Iman kepada Rasul–Rasul Allah Swt. yakni meyakini bahwa Allah Swt. telah memilih di antara manusia sebagai rasul-rasul, untuk menerima dan menyampaikan wahyu sebagai pedoman hidup ummat dan sebagai hujah di akhirat nanti.

5. Iman kepada hari akhir yakni meyakini dunia ini mempunyai saat terakhir, kemudian datanglah kehidupan kedua yaitu kehidupan di akhirat. Pada hari itu Allah Swt. membangkitkan semua mahluk, mengumpulkan mereka untuk dikhisab dan diberi balasan sesuai dengan jenis amalnya. Hari kiamat dimulai dengan keluarnya Dajjal, Ya’jud dan Ma’jud, turunnya Nabi Isa as, keluarnya hewan besar, matahari terbit dari barat, dan tanda-tanda lainnya yang kemudian di tandai dengan suara sangkakala kebangkitan, dan pembagian buku catatan amal, dilanjutkan dengan timbangan amal, jembatan titian dan penetapan penghuni surga dan neraka.

6. Iman kepada qada dan qadar yakni meyakini bahwa Allah Swt. telah menetapkan segala sesuatu yang ada di alam semesta, tidak ada satupun kejadian di alam ini yang luput dari rencana dan pengawasannya. Meyakini bahwa Allah Swt. Maha Adil dalam takdir-Nya, maha bijaksanan dalam semua pengaturannya, dan tidak ada daya kekuatan kecuali dengan kekuatan-Nya.

Keimanan adalah aspek ajaran Islam yng harus diutamakan pembelajarannya, hal ini karena keimanan merupakan tonggak ketaan, dakwah utama para Rasul, dasar diterima sebagai seorang muslim, dan merupakan pangka seseorang akan mendapatkan keamanan dan petunjuk kebenaran.

Keimanan adalah fitrah yang telah diciptakan sebagai potensi yang dimiliki semua manusia. 

Penanaman keimanan dibelajarkan melalui,

1) penenaman keimanan harus diupayakan dari sejak anak usia dini, perlu penanaman yang berkesinambungan dan berjenjang. 

2) penanaman keimanan tidak hanya mengajarkan apa itu keimanan, melainkan harus sampai tertanam dalam lubuk hatinya ketauhidan, perasaan mengagungkan, perasan kepengawasan, perasaan kemaha rahmatan yang melekat kuat dalam setiap aktivitas dan keadaan. 

3) penanaman keimanan harus mengikuti tahapan dan strategi yang teruji kualitasnya, yang sudah diteladankan oleh Rasululah yang beliau dalam pembelajarannya mendapat bimbingan langsung wahyu Allah.

Pengajaran harus terhindar dari sekecil apapun yang justru dampaknya dapat mengotori akidah itu sendiri, sehingga media, sarana, materi dan lingkungan harus diseterilkan dari hal yang mengandung penyimpangan akidah.







Continue reading Entry 5 - Konsep Pembinaan Keimanan

Minggu, 02 Juni 2024

Entry 4 - Sumber Hukum Islam

 Tanggal pertemuan: 4 Maret 2024


Sumber Hukum Islam


1. Syariah dan Fikih. 

Aturan-aturan yang ditetapkan oleh Allah Swt untuk dijadikan pedoman bagi manusia dalam mengatur hubungan dengan Tuhan, dengan manusia beserta seluruh alam semesta. 

Sedangkan fikh adalah ilmu yang menerangkan tentang hukum syara’ (ketentuan-ketentuan hukumdari Allah) tentang perbuatan manusia berdasarkan dalil yang terperinci serta ditemukan melalui penalaran para mujtahid atau ulama.

2. Alquran. 

Firman Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw melalui malaikat Jibril dengan menggunakan bahasa Arab, sebagai hujjah (bukti) kerasulan Nabi Muhammad, dan membacanya adalah ibadah.

Sejarah diturunkanya; Alquran diturunkan kepada nabi Muhammad saw secara berangsur-angsur supaya mudah dihafal, mudah dicerna, dan sebagai respons atas persoalan-persoalan yang terjadi pada masa itu. 

Periodesasi wahyu: Alquran turun dalam dua periode, yaitu periode Mekkah dan Periode Madaniyah.. Sedangkan Periode Madinah, diturunkan setelah nabi hijrah ke Madinah

Sejarah kodifikasi; Alquran mulai dibukukan pada masa pemerintahan khalifah Abu Bakar Ash-shiddieq, dan disempurnakan pada masa pemerintahan Khalifah Usman bin Affan.

3. Hadits dan Ijtihad

Hadis adalah penuturan sahabat tentang Rasulullah saw. baik mengenai perkataan, perbuatan, maupun persetujuan beliau.

Maka bentuk hadis ada tiga  perkataan/sabda (qauliyah), perbuatan (fi’liyah) dan persetujuan (taqririyah)

Pembukuan hadis mulai dilakukan pada abad ke-2 H, pada masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz (Dinasti Bani Umayyah

Cara hadis menjelaskan (bayan) Alquran: 

Bayan Tafsir,  yaitu menjelaskan apa yang terkandung dalam Alquran. 

Bayan tafshil memberikan perincian bagi yang masih umum

Bayan Taqyid, memberikan batasan bagi ketentuan Allah Swt. yang bersifat mutlak

Bayan Takhshish mengkhususkan cakupan ketentuan yang umum

Bayan Taqrir, menguatkan ketentuan yang sudah disebutkan dalam Alquran

Bayan Tasyri’, menetapkan hukum baru yang belum ditetapkan dalam Alquran.


Sebuah hadis terdiri dari tiga bagian ;

Sanad ; yaitu rantai periwayat hadis itu sampai kepada Rasulullah

Matan; isi dari hadis

Rawi; yang meriwayatkan hadis beserta sanadnya. 


Dari segi jumlah perowinya, Hadis dibagi menjadi 3 yaitu hadis mutawatir, hadis masyhur dan hadis ahad.

Dari segi kualitasnya, hadis dibagi menjadi 4 yaitu; hadis shahih, hadis hasan, hadis dhaif dan hadis maudhu.


Ijtihad, yang hanya bisa dilakukan oleh mujtahid, yakni ulama yang mampu secara keilmuan dan integritas ketakwaan untuk melakukannya. 

Ijtihad adalah mencurahkan segala kesanggupan dalam mengeluarkan hokum syara yang bersifat amaliyah dari dalil-dalilnya yang terperinci baik dalam Alquran maupun dalam Hadis.


Metode, cara, teori, atau kerangka konseptual yang dipergunakan para ulama dalam berijtihad/  menetapkan hukum suatu persoalan ada dua yaitu metode yang disepakati oleh para jumhur ulama (fuqaha’ dan ushuliyyun), dan metode yang masih diperselisihkan di antara mereka.

Metode yang disepakati adalah ijma’ (kesepakatan ulama )dan qiyas (analogi), sedangkan metode yang masih diperselisihkan adalah istihsan, istishab, fatwa shahabi, maslahah mursalah, ‘urf dan saddudz dzari’ah. 

Maqashid syariah diartikan dengan maksud atau tujuan ditetapkannya suatu ketentuan syariah atau hukum Allah. Pengertian tersebut dilandasi asumsi bahwa penetapan syariah memiliki tujuan tertentu oleh Pembuatnya yakni Allah Swt. Dan tujuan tersebut diyakini adalah untuk kemaslahatan manusia sebagai sasaran syariah.



Continue reading Entry 4 - Sumber Hukum Islam

Entry 3 - Agama Islam

 Tanggal Pertemuan: 27 Februari 2024

Islam

Rahmatan Lil Alamin


Konsep Din Al-Islam (Pengertian Din)

1. Din Secata Etimologis

Din  berasal dari kata dâna – yadÎnu – dînan  yang memiliki arti agama, kepercayaan, tauhid, ibadah, ketaatan,

2. Dîn Secara Terminologi

Peraturan Ilahi yang mengantarkan orang-orang yang berakal sehat atas kehendak mereka sendiri menuju kebahagiaan dunia dan akhirat

Pengertian Al-Islam

Secara etimologi, kata Islam, ia berasal dari kata salima. Secara etimologi memiliki arti “selamat, damai, tunduk, patuh, pasrah, menyerahkan diri, sejahtera dan tidak cacat”

Secara terminologi dimaknai sebagai agama Allah yang diwahyukan kepada Rasul-Nya, sebagai petunjuk bagi umat manusia agar memperoleh kebahagiaan di dunia  dan di akhirat  


Ajaran Dasar Islam: Aqidah, Akhlak, Syari'ah

a. Aqidah secara bahasa memiliki arti ikatan, sangkutan atau simpul. Secara Istilah adalah kepercayaan dan keyakinan yang menyatakan bahwa Allah itu adalah Tuhan yang Maha Esa, tidak beranak dan tidak diperanakkan serta tidak ada sesuatu apapun yang menyerupai-Nya

b. Syari’ah secara bahasa memiliki arti jalan, sumber air, petunjuk menuju sumber air atau jalan yang harus ditempuh setiap orang. Syariat adalah peraturan-peraturan yang bersumber pada wahyu Allah dan kesimpulan-kesimpulan yang dapat dianalisa dari wahyu itu mengenai tingkah laku manusia

c. Akhlak secara bahasa memiliki arti perbuatan, adat, perangai, tingkah laku secara umum, baik terpuji ataupun tercela. Secara istilah memiliki arti tingkah laku, perbuatan dan perangai terpuji berdasarkan kepada al-Qur’an dan al-Sunnah


Karakteristik Agama Islam

1. Agama yang bersumber dari Allah baik melalui Al Quran maupun lewat perantara Rasulullah Saw (QS. Ali Imran: 32)

2. Ajarannya bersifat komprehensif atau mencakup seluruh aspek kehidupan (QS. Al An’am: 38)

3. Universal atau berlaku untuk seluruh manusia baik dulu hingga sekarang (QS. Al-A’raf: 158)

4. Sesuai dengan fitrah kemanusiaan (QS. Al-Rum: 30)

5. Menempatkan akal manusia secara proporsional atau tidak mendewakan dan tidak pula menghinakannya   (QS. Al-A’raf: 79).


Terdapat tujuh karakteristik ajaran Islam sangat penting untuk dipahami:

  1. Rabbaniyyah (bersumber dari Allah, bukan manusia)
  2. Insaniyyah (untuk manusia)
  3. Syumuliyah (lengkap, komprehensif)
  4. Al-Waqi’iyyah (realistis)
  5. Al-Wasathiyyah (moderat)
  6. Al-Wudhuh (konsep yang jelas)
  7. Al-Jam’u bainats Tsabat wal Murunnah (ajaran yang tetap dan fleksibel)


Islam Rahmatan Lil ‘Âlamîn artinya Islam yang kehadirannya di tengah kehidupan masyarakat mampu mewujudkan kedamaian dan kasih sayang bagi manusia maupun alam


Menumbuhkan kepemilikan ilmu yang luas: QS Al ’Ankabut/29: 45; QS Al-Ahzab/33: 34; QS Fathir/35: 29; QS  Al-A’la/87: 6

Kontrol yang kuat dalam berucap dan bertindak: (QS Az Zalzalah Ayat: 7-8)

Menjunjung tinggi persaudaraan dan persatuan : (QS Ali Imran/3: 103)



Continue reading Entry 3 - Agama Islam

Entry 2 - Manusia dan Agama

 Tanggal Pertemuan: 20 Februari 2024

Pertemuan dimulai dengan satu pertanyaan: Bisakah Manusia Hidup Tanpa Agama?

Menurut penulis, jawaban atas pertanyaan ini sangat bergantung dengan definisi pribadi atas bagian dari hidup yang seperti apa. 

Manusia dalam Al-Qur'an dibagi menjadi dua:

Secara Basyar dan secara Insan:
1. Basyar: terambil dari akar kata yang pada mulanya berarti penampakkan sesuatu dengan baik dan indah. Menunjuk kepada proses kejadian manusia dengan tahapan-tahapannya sehingga mencapai tahap kedewasaan.

2. Insan: terambil dari kata uns yang berarti jinak, harmonis, dan tampak. Menunjuk kepada manusia dengan seluruh totalitasnya, jiwa dan raga, yang membedakan satu orang dengan yang lainnya akibat perbedaan fisik, mental, dan kecerdasan 


Manusia Menurut Tokoh Dunia:

Sokrates mendekati manusia sebagai individu, sementara Plato melihat manusia dari sudut kehidupan sosial dan politiknya.

Kalau menurut Sastrapratedja, manusia adalah makhluk yang historis

Comte mengatakan bahwa “mengenal diri adalah mengenal sejarah”, manusia tidak cukup apabila hanya dilihat dari sudut fisika, kimia, dan biologi saja.

Menurut Ernst Cassirer: manusia tidak dapat didefinisikan berdasarkan sifat metafisik dan fisiknya. Ciri utama manusia terletak pada karyanya.


Bahan Penciptaan Manusia:

1. Unsur Materi (QS. As-Sajadah 7-8)

الَّذِيْٓ اَحْسَنَ كُلَّ شَيْءٍ خَلَقَهٗ وَبَدَاَ خَلْقَ الْاِنْسَانِ مِنْ طِيْنٍ ۝٧           
                     ثُمَّ جَعَلَ نَسْلَهٗ مِنْ سُلٰلَةٍ مِّنْ مَّاۤءٍ مَّهِيْنٍۚ  ۝٨ 
"Yang memperindah segala sesuatu yang Dia ciptakan dan yang memulai penciptaan manusia dari tanah," dan "kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina (air mani)."

2. Unsur Non Materi (QS. As-Sajadah: 9, Al-Isra: 175, Al-Qadr: 4)

ثُمَّ سَوّٰىهُ وَنَفَخَ فِيْهِ مِنْ رُّوْحِهٖ وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْاَبْصَارَ وَالْاَفْـِٕدَةَۗ قَلِيْلًا مَّا تَشْكُرُوْن۝٩                           
"Kemudian, Dia menyempurnakannya dan meniupkan roh (ciptaan)-Nya ke dalam (tubuh)-nya. Dia menjadikan pendengaran, penglihatan, dan hati nurani untukmu. Sedikit sekali kamu bersyukur." (As-Sajadah ayat 9)


                             وَٱتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ ٱلَّذِىٓ ءَاتَيْنَٰهُ ءَايَٰتِنَا فَٱنسَلَخَ مِنْهَا فَأَتْبَعَهُ ٱلشَّيْطَٰنُ فَكَانَ مِنَ ٱلْغَاوِينَ   
 
"Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi Al Kitab), kemudian dia melepaskan diri dari pada ayat-ayat itu, lalu dia diikuti oleh syaitan (sampai dia tergoda), maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat." (Al-Araf ayat 175)


تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ

"Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan." (Al-Qadr ayat 4)


Teori Tentang Agama

1. Edward B. Tylor (1832-1917). Teori Aminisme dan Evolusi Agama.
Tiga tahap perkembangan evolusi agama dari animistik, politeistik, ke monoteistik.

2. J.G. Frazer (1854-1941). Teori Magis.
Magis adalah tindakan manusia untuk mencapai suatu maksud melalui kekuatan gaib yang ada di alam.

3. Emile Durkheim (1859--). Teori Sentimen Kemasyarakatan.
Agama muncul karena adanya getaran jiwa yang berupa rasa cinta terhadap masyarakatnya. Totem merupakan benda-benda keramat sebagai lambang suatu masyarakat.

4. Andrew Lang (1844-1912). Teori 'Ur Monoteisme'
Keyakinan adanya dewa tertinggi yang dipandang sebagai pencipta alam, penjaga ketertiban alam dan kesusilaan.


Agama dalam Terminologi Islam
1. Kekalahan dan penyerahan diri pada pihak yang lebih berkuasa
2. Ketaatan penghambatan bagi pihak yang lemah kepada pihak yang punya kuasa
3. Undang-undang hukum pidana, perdata dan peraturan yang berlaku dan ditaati
4. Peradilan, perhitungan atau pertanggung jawaban, pembalasan, vonis dan sebagainya.

Unsur-Unsur Agama:

1. Emosi Keagamaan
2. Upacara Keagamaan
3. Tempat dan Peralatan Peribadatan
4. Kelompok Penganut
5. Sistem Keyakinan

Fungsi Agama:

1.Agama menyajikan dukungan moral dan sarana emosional, pelipur lara, dan rekonsiliasi di saat manusia menghadapi ketidakpastian dan frustasi.
2. Agama menyajikan sarana hubungan transendental melalui amal ibadat, yang menimbulkan rasa damai dan identitas baru yang menyegarkan
3. Agama memberikan standar nilai untuk mengkaji ulang nilai-nilai
4. Agama mengesahkan, memperkuat, memberi legitimasi dan mensucikan nilai dan norma masyarakat
5. Agama memberikan status atau identitas baru dalam pertumbuhan dan siklus perkembangan individual melalui berbagai krisis rites. 




Continue reading Entry 2 - Manusia dan Agama